SELAMAT DATANG *** WELCOME *** AHLAN WA SAHLAN

Kamis, 24 Desember 2020

Keseruan Penjaringan IPM 2020-2021

Suasana zoom 1 dengan Ahmad Fadlulollah sebagai juri.
(Fransisca Aprillia Istifani)

Penjaringan IPM SMP Musasi dilaksanakan pada hari Senin, (21/12/20)  pukul 7.30 - 11.00 WIB. 

Kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh PR IPM SMP Musasi, tepatnya pada saat mendekati KBM semester 2 setiap tahunya. Tahun ini, terdapat 38 siswa kelas 7 dan 8  yang ikut serta untuk mendaftarkan diri. Dengan diadakannya penjaringan ini, diharapkan para peserta yang terpilih kelak dapat mengembangkan dan meneruskan hasil kerja keras dari para anggota IPM SMP Musasi sebelumnya. 

Acara ini diikuti oleh semua peserta penjaringan, Anggota IPM yang bertugas menjadi koordinator kegiatan sekaligus tuan rumah, Rizky Ananto (Ketua umum IPM SMP Musasi), Dra. Enny Sulistyowati (Wakil kepala sekolah), serta perwakilan 3 guru SMP Musasi untuk menjadi juri yaitu, Alfan (Pembina IPM SMP Musasi), Ahmad Fadlulloh, dan Faizal Amari Mangkoe. 

Dikarenakan pandemi covid-19 masih berlangsung hingga sekarang, kegiatan penjaringan tahun ini dilaksanakan secara online melalui aplikasi zoom meeting

Walaupun sempat ditunda 2 bulan lamanya, acara penjaringan tetap berjalan lancar. Meskipun dilaksanakan secara online , acara ini juga berlangsung seperti yang di harapkan. Sebelum memulai tes, mereka semua akan memenuhi tahap pembukaan acara yang dilaksanakan mulai pukul 7.30 WIB. Dimana terdapat penyambutan oleh pembina IPM SMP Musasi, ketua umum IPM SMP Musasi, dan wakil kepala sekolah yang membuka kegiatan penjaringan secara resmi. 

Selanjutnya, pada pukul 9.00 WIB. Para peserta akan diarahkan untuk memasuki ruang zoom meeting masing-masing sesuai dengan yang telah di kelompokan, untuk memulai tes penjaringan. Dalam tes penjaringan ini, terdapat 3 sesi yang harus dilalui para peserta. 

Sesi 1 yaitu, peserta diminta untuk memperkenalkan diri dan motivasi mereka mengikuti IPM. Sesi 2 yaitu, pemberian 2 soal yang akan di pecahkan setiap peserta. Yang terakhir sesi 3 merupakan debat, dimana koordinator akan memberi pertanyaan dan peserta harus menjawab pertanyaan tersebut dengan opini mereka masing masing. 

Setelah melewati ketiga sesi tersebut, juri dipersilahkan untuk memberi masukan untuk jawaban para peserta tadi. Kegiatan penjaringan berakhir pukul 11.00 WIB. (Francisca Aprillia Istifani)

Minggu, 14 Juni 2020

12 kandidat terpilih menjadi calon pimpinan umum IPM SMP Musasi periode 2020-2021.

Pertemuan online 12 kandidat calon pimpinan umum IPM SMP Musasi (Fransisca Aprillia Istifani)

Pada hari Kamis, (12/6/2020) kemarin, PR IPM SMP Musasi mengadakan pertemuan online dalam rangka penentuan 12 kandidat terpilih, calon pimpinan umum ipm musasi angkatan 2020-2021. 12 kandidat tersebut antara lain Tata 7F, Rafly 7B, April 7D, Zico 7E, Zasya 7H, Fathir 7H, Ajeng 7F, Ibrahim 7E, Nayla 7J, Yusuf 7I, Ayesha 7A, Najwa 7E. 

Oleh karena pandemi covid-19 sekarang ini masih berlangsung, maka Ahmad Fadlulloh (selaku pembina IPM SMP Musasi sekarang), memutuskan untuk melaksanakan pertemuan tersebut diadakan secara online, pada sekitar pukul 09:00-10:00 WIB. Melalui aplikasi Zoom meeting

Selain diikuti oleh seluruh anggota dan pembina IPM SMP Musasi, rapat ini juga dihadiri oleh calon pembina yang akan menggantikan Ahmad Fadlulloh dalam mengawasi dan mendidik IPM SMP Musasi untuk periode yang selanjutnya. Beliau adalah Alfan, guru mata pelajaran PPKN kelas 7, dan 8 di SMP Musasi.

 Disamping untuk mengumumkan dan memperkenalkan, rapat ini juga bertujuan untuk melepas rindu sesama anggota dan pembina IPM Musasi yang sudah hampir sekitar 4 bulan tidak berjumpa dan saling bertatap muka. Dengan diadakannya pertemuan online ini mereka semua berharap tetap menjaga dan mempertahankan silaturahmi antar sesama. (Francisca Aprillia Istifani).

Selasa, 11 Agustus 2015

Foto Kegiatan Pengurus IPM Dari Setiap Bidang Untuk Menyampaikan Materi Ke-IPM an Untuk Peseta Didik Baru

Ketua Pengkaderan "Rayhan Adi Pratama"

Salah Satu Anggota Pengkaderan M.Hadaf A.L.

Ketua Dan Sekbid Bisang KDI

Bidang KDI
 Sekarang Giliran Setiap Bidang Untuk Menyampaikan Proker Apa Sajakah Yang Ada Dibidangnya Masing-Masing.
Kali Ini Yang Mendapat Giliran Pertama Adalah Bidang "Pengkaderan". Ketua Bidang Pengkaderan (Rayhan Adi P.) Ini Didampingi Oleh Salah Satu Anggotanya (M.Hadaf.A.L) Untuk Menyampaikan Proker-Proker Apa Sajakah Yang Ada Dibidang Pengkaderan Ini.
Ketua Dan Sekbid Bidang PIP "Hilvia Faradika Sasmi" (Kiri) Dan "Alfariza Dika" (Kanan)

Bidang PIP
 Para Peserta Didik Baru Sangat Antusias Dan Sangat Menyimak.Ini Membuat Ketua Bidang Pengkaderan (Rayhan Adi P.) Sangat Senang Sekali Untuk Menyampaikan Materi Ini. Lalu Yang Menarik Pada Materi Ke-IPM an Tahun Ini Adalah Sekbid Advokasi Atau Yang Akrab Di Panggil Iqra Menyampaikan Materi Dengan Sedikit Gaya "Stand Up Comedy" Jadi Peserta Didik Baru Merasa Sangat Dihibur Oleh Sekbid Advokasi Ini.Iqra Juga Mengatakan Bahwa Jadi IPM Itu Seru Karena Kita Bisa Membantu Teman,Guru,Maupun Sekolah.
Ketua Dan Sekbid Bidang Advokasi "Imelda Rosany" (Kanan) Dan "Iqra Akbar Ramadanianto" (Kiri)
Sekbid Advokasi (Iqra Akbar R.) Sedang Menghibur Peserta Didik Baru

Ketua Dan Salah Satu Anggota Bidang Ipmawati Menyampaikan Materi Ke-IPM an
 "Siapa Yang Siap Menjadi Pengurus IPM Ranting Smp Musasi??" Begitulah Pertanyaan Dari Iqra,Lalu Banyak Yang Mengacungkan Tangan,Iqra Juga Berkata Kalau Ipm Tahun Ini Akan Mengalami Kemajuan Yang Baik.
"Riza Almira" Salah Satu Anggota Bidang Ipmawati

Jumat, 27 Maret 2015


STRUKTUR PIMPINAN RANTING
IPM SMP MUHAMMADIYAH 1 SIDOARJO
PERIODE 2014-2015



KETUA UMUM






NAUFAL SATRIA ZULFIKAR






WAKIL KETUA






M. RIDHWAN HIDAYAT



SEKRETARIS UMUM


BENDAHARA UMUM
TSANIA QURROTA A'YUN


SHEILA SABIKA
WAKIL SEKRETARIS


WAKIL BENDAHARA
SHAFA NURISMA      




HANA NUR TSURAYA

KABID KDI
KABID PIP
KABID PERKADERAN
GATRA RAGIL
ALFARIZA DIKA
M. RAIHAN A.
SEKBID
SEKBID 
SEKBID 
MIFTAHUL AFIFUR
HILVIA FARADIKA SASMI
FAHMI ABDUL AZIZ
ANGGOTA :
ANGGOTA :
ANGGOTA :
1. NABILA ADELIA
1. AINILYA JESSI
1. ALIF IHZA
2. RIZKY FAJAR
2. RAYHAN NAUVAL
2. ADE LAILATUL
3. NURIN SABRINA
3. SALSABILA RAFIF
3. ASDI OKTADIANSYAH
4. GADAFI
4. IMANDARI
4. FAIZ FIRDAUSI
5. NADYA A.
5. RANIYAH GADIANE
5. M. HADAF
6. NESYA ADELIA P        




6. DIANDARA ARINTYA

KABID ASBO
KABID ADVOKASI
KABID IPMAWATI
M. RIZKY
IMELDA ROSANTY
SHAFIRA HUDA
SEKBID
SEKBID
SEKBID
ABID IBRA
IQRA AKBAR R.
FIRDAUSI NUZULA
ANGGOTA :
ANGGOTA :
ANGGOTA :
1. FLOREAN HAYA
1. EDWINA
1. RIZA ALMIRA
2. M. YUSUF FIKRI
2. INASTITI ADNAN
2. AYUNINGSUKMA
3. SYAHRUL R.
3. JIHAN TSABITA
3. NADIYAH GADIANE
4. SYIFA NABILA
4. M. ZULFIKAR
4. BOCCA DELIA VERITA
5. THARISSA F H 5. ZAKIA OLIVIA
5. SALWA TIARA





































SIDOARJO, 3-10- 2014

WAKASIS




PEMBINA IPM





















DRA. ENY SULISTYOWATI



SITI ZUMAROH, S. AG
Di balik surat al Insyirah
Sebuah ayat dalam surat al Insyirah ayat 1-8 mengingatkan kita betapa Allah SWT menyayangi dan begitu perhatian terhadap kita sebagai hambaNya. Allah SWT sudah menunjukkan kita jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi oleh makhlukNya. 
Jika selama ini, ketika kita dalam keadaan gundah dan butuh pertolongan, tidak sedikit dari kita yang kemudian meminta pertolongan dari selain Allah SWT. dengan keyakinan yang pasti bahwa seseorang yang akan kita mintai pertolongan benar-benar akan memberikan solusi dari semua yang kita curahkan. Padahal sesungguhnya saat itu keimanan kita sedang diuji, benarkah ketika dalam keadaan ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta juga makanan kita sudah lari kepada Allah SWT untuk meminta itu semua?
coba kita sama-sama perhatikan call darurat yang sudah disediakan Allah SWT untuk kita!
Anda Sedih ...................................................QS 02:25
Anda berdosa.................................................QS 39:53
Anda mencari cinta dan Ketengangan ..........QS 30:21
Anda mencari teman......................................QS 02:257
Anda merasa tidak dihargai...........................QS 76:22
Anda merindukan teman................................QS 50:16
dan masih banyak lagi call darurat yang bisa kita hubungi saat kita butuhkan pertolongan. tapi yang menjadi pertanyaan besar, sudahkah kita menyandarkan semuanya kepada Allah SWT setelah kita sudah berikhtiar???
"Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, maka sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan"
 (al Insyirah : 5-6)



Siti Zumaroh, S. Ag. (Pembina IPM SMP MUSASI)

Profil: Kyai Haji Ahmad Azhar Basyir, MA (Ketua 1990 - 1995)

Kyai Haji Ahmad Azhar Basyir, MA
 Kyai Haji Ahmad Azhar Basyir, MA 
Tokoh kharismatik dan pejuang perang sabil ini dikenal sebagai ulama yang sederhana, dan tak sedikit pula orang yang kagum pada kecemerlangan iktelektualnya. Azhar Basyir, demikian Kyai Haji Ahmad Azhar Basyir, MA kerap disapa. Ulama-intelektual ini lahir di Yogyakarta, 21 November 1928. Masa kecilnya tumbuh dan dibesarkan di lingkungan masyarakat yang kuat berpegang pada nilai agama. Yaitu, di kampung Kauman.Selama 34 tahun Azhar Basyir malang melintang menggeluti studi formalnya di Tanah Air hingga luar negeri. Putra pasangan Haji Muhammad Basyir dan Siti Djilalah ini memulai pendidikan di Sekolah Rendah Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Setelah tamat, Azhar Basyir lantas nyantri di Madrasah Salafiyah, Ponpes Salafiyah Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Setahun kemudian, Azhar Basyir berpindah ke Madrasah Al-Fallah Kauman dan menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pertamanya pada Tahun 1944. Pendidikan lanjutan kemudian ditempuhnya di Madrasah Mubalighin III (Tabligh School) Muhammadiyah Yogyakarta dan rampung dalam dua tahun.   Pada masa revolusi, Azhar Basyir bergabung dengan kesatuan TNI Hizbullah, Batalion 36 Yogyakarta. Pasca kemerdekaan, Azhar Basyir kembali ke bangku study melalui Madrasah Menengah Tinggi Yogyakarta tahun 1949, dan tamat tahun 1952. Baru kemudian meneruskan ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta. Berkat kegigihan yang ditunjang kemampuan ilmu agamanya, Azhar Basyir dipercaya menjadi ketua Pemuda Muhammadiyah tatkala lembaga ini baru didirikan tahun 1954. Jabatannya mendapat pengukuhan kembali pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembang tahun 1956. Tak lama tugas itu diembannya, Azhar Basyir mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Baghdad, Irak. Fakultas Adab Jurusan Sastra adalah bidang yang diambilnya. Dari sini, Azhar Basyir melanjutkan studi ke Fakultas Dar Al 'Ulum Universitas Kairo, serta belajar Islamic Studies sampai meraih gelar master dengan tesis: Nizam al-Miras fi Indunisia, Bain al-'Urf wa asy-Syari'ah al-Islamiyah (Sistem Warisan di Indonesia, antara Hukum Adat dan Hukum Islam).Sekembalinya ke Indonesia selama study di Timur Tengah, Azhar Basyir diangkat sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM). Tak hanya bidang keilmuan yang ditekuninya, di lapangan organisasi Azhar Basyir pun aktif terlibat. Bahkan sejak duduk di sekolah menengah sudah bergiat di Majelis Tabligh Muhammadiyah. Karir berorganisasinya dimulai sebagai Juru Tulis yang tugasnya mengetik dan mengantar surat. Barulah kemudian Azhar Basyir masuk dalam jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yaitu di Majelis Tarjih sampai tahun 1985.   Pada Muktamar Muhammadiyah di Semarang tahun 1990, ulama intelektual ini diberi amanah di jajaran Ketua PP Muhammadiyah. Saat memasuki musim haji tahun 1994, pemerintah menunjuknya selaku perwakilan Amirul Haj Indonesia. Pulang dari Tanah Suci, Azhar Basyir kembali bekerja keras. Dan pada saat yang sama, duduk di beberapa organisasi seperti menjadi salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat masa bakti 1990-1995, anggota Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat Indonesia, serta anggota MPR-RI periode 1993-1998. Pada usia 65 tahun, tokoh kharismatik ini mulai memasuki masa pensiun dari kegiatan mengajar di Fakultas Filsafat UGM. Tetapi, tetap bertekad mengabdikan ilmunya dengan mengajar di Fakultas Hukum UGM, IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.    Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1995, Azhar Basyir terpilih sebagai Ketua Muhammadiyah menggantikan KH AR Fakhruddin. Berkenaan dengan dimensi tasawuf dalam Muhammadiyah, Azhar Basyir menyatakan bahwa Muhammadiyah juga menganut tasawuf, seperti yang ditulis Buya Hamka dalam buku Tasauf Modern. Menurutnya, orang dapat saja melakukan kegiatan yang berorientasi dunia tanpa meninggalkan dzikir. Demikianlah ketegasan tokoh ini dalam menetapkan garis kebijakan Muhammadiyah. Melalui gagasan dan pemikirannya itulah Azhar Basyir dikenal sebagai ulama yang banyak menguasai ilmu agama, kehadirannya dalam khazanah pemikiran Islam seumpama sumur yang tak surut ditimba. Dapatlah dikata, Azhar Basyir merupakan sosok perpaduan ulama dan intelektual. Oleh karenanya, Muhammadiyah di bawah kepemimpinannya cukup intens memunculkan kegiatan yang berbentuk pengajian dan kajian dalam mengurai berbagai persoalan keummatan dan pemikiran keislaman. Karya ilmiah yang pernah ditulis Azhar Basyir cukup banyak dijadikan rujukan dalam kajian ilmiah di berbagai Universitas di Tanah Air. Di waktu senggangnya, Azhar Basyir juga bergiat menulis buku. Di antara karya-karyanya adalah Refleksi Atas Persoalan Keislaman (seputar filsafat, hukum, politik dan ekonomi); Garis-garis Besar Ekonomi Islam; Hukum Waris Islam; Sex Education; Citra Manusia Muslim;Syarah Hadits; Missi Muhammadiyah; Falsafah Ibadah dalam Islam; Hukum Perkawinan Islam; Negara dan Pemerintahan dalam Islam; Mazhab Mu’tazilah (Aliran Rasionalisme dalam Filsafat Islam); Peranan Agama dalam Pembinaan Moral Pancasila; Agama Islam I dan II, dan lain-lain. Selain itu, Magister dalam ilmu Dirasat Islamiyah ini diakui secara internasional sebagai ahli fiqih yang disegani. Itulah mengapa, sosoknya dengan mudah diterima duduk di Lembaga Fiqih Islam: Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang memiliki persyaratan ketat.    Tepatnya pada awal Juni 1994, ulama ini masuk rumah sakit karena komplikasi penyakit gula, radang usus, dan jantung. Kondisinya kian memburuk. Hingga akhirnya, wafad di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sarjito setelah dirawat di PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Azhar Basyir wafad tepat pada tanggal 28 Juni 1994 dalam usia 66 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karangkajen Yogyakarta.

Sumber:http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-166-det-kha-azhar-basyir-ma.html

Kamis, 26 Maret 2015

Profil::Prof. Dr. H. Amien Rais(Ketua 1995 -1998)

Prof. Dr. H. Amien Rais
Prof. Dr. H. Amien Rais
   Meskipun tak semua nama otomatis mewakili kepribadian seseorang, namun membaca nama Tokoh Sentral Reformasi Indonesia 1998 satu ini sudah cukup sebagai referensi awal untuk melihat sosoknya yang besar. Prof. Dr. Muhammad. Amien Rais, MA. yang lebih populer dikenal Amien Rais adalah sosok pemimpin terpercaya di republik ini. Lahir pada 26 April 1944 di Surakarta. Orang tuanya berharap putra kedua dari enam bersaudara ini menjadi kyai dan melanjutkan pendidikan agama ke Mesir, sehingga pendidikan yang ditanamkan Syuhud Rais dan Sudalmiyah, ayah dan ibunya, sejak dini sudah mencerminkan nilai-nilai agama yang sangat menekankan tumbuhnya kepribadian disiplin, taat beribadah, banyak membaca dan berbudi pekerti. Dari lingkungan sekitarnya, Amien Rais juga banyak belajar tentang realitas masyarakat dimana dirinya sangat dekat dengan kondisi keluarga miskin, kampung sederhana, dan bahkan memahami betul bentuk ruang tidur dan dapurnya yang alakadarnya.


. Amien Rais menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah I Surakarta, sampai pendidikan SMP dan SMU juga selesai di sekolah Muhammadiyah. Pendidikan tingkat sarjana Amien Rais selesaikan di Jurusan Hubungan Internasional fakultas FISIPOL Universitas Gadjah Mada pada tahun 1968, bahkan tahun berikutnya juga menerima gelar Sarjana Muda dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di masa-masa mahasiswa inilah Amien Rais terlibat aktif dan berperan di berbagai organisasi kemahasiswaan, seperti Ikatan Mahasiswa Muham­madiyah (Ketua Dewan Pimpinan Pusat IMM) dan Himpunan Mahasiswa Islam (Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam HMI Yogyakarta). Studinya dilanjutkan pada tingkat Master bidang Ilmu Politik di University of Notre Dame, Indiana, dan selesai tahun 1974. Dari universitas yang sama juga memperoleh Certificate on East-European Studies. Sedangkan gelar Doktoralnya diperoleh dari University of Chicago, Amerika Serikat (1981) dengan mengambil spesialisasi di bidang politik Timur Tengah dan selesai tahun 1984. Disertasinya yang cukup terkenal, berjudul: The Moslem Brotherhood in Egypt: its Rise, Demise, and resurgence (Organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran, Keruntuhan dan Kebangkitannya kembali). Program Post-Doctoral Program di George Washington University pada tahun 1986 dan di UCLA pada tahun 1988 pernah pula diikutinya.
Saat mengenang Zainal Zakze Award yang di raihnya tahun1967, sebuah penghargaan jurnalisme bagi penulis mahasiswa krits, Amien Rais hanya berkomentar pendek ”Sejak itu, saya tidak pernah tidak kritis.” 
Sebagai ilmuwan dan akademisi sekaligus Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada, Amien Rais mengajar mata kuliah Teori Politik Internasional, Sejarah dan Diplomasi di Timur Tengah, Teori-teori Sosialisme, hingga memegang mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik di Program Pascasarjana Ilmu Politik. Selain itu, Amien Rais mengelola Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK), lembaga yang konsen dalam kegiatan pengkajian dan penelitian sebagai bentuk keprihatinan atas terbatasnya produk kebijakan menyangkut masalah-masalah strategis yang berorientasi pada penguatan pilar-pilar kehidupan masyarakat. Perjalanan pendidikan Amien Rais memberinya tak sedikit pengalaman dan kemampuan kognitif-analitis, dimana kemampuan itu mengantarnya menjadi salah seorang intelektual terkemuka di negeri sendiri dan di berbagai negeri mancanegara. Sepanjang rentang aktivitas sekembalinya ke Tanah Air setelah sekian lama malang-melintang menimba ilmu di negeri Paman Sam, tugas-tugas intelektualisme yang kemudian Amien Rais geluti --baik berupa transfor­masi keilmuan dengan mengajar di berbagai universitas maupun dengan melakukan kritik atas fenomena sosial yang sedang berlangsung-- meneguhkan sosoknya yang memiliki daya kepemimpinan di atas rata-rata dan dapat dipercaya. Kritiknya yang sangat vokal bahkan mewarnai opini publik di Indonesia. Dan sebagai pakar politik Timur Tengah, Amien Rais juga seringkali melontarkan kritik yang sangat tajam terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika, sebuah negeri tempatnya sendiri belajar tentang demokrasi dan hak asasi manusia.
Konsistensi Amien Rais dalam menolak sikap lembek bangsanya terhadap intervensi asing dan budaya koorporatokrasi yang menjagal hak-hak dasar hajat hidup bangsa Indonesia sendiri terekam jelas dalam buah pikirnya pada buku:Selamatkan Indoenesia; Agenda Mendesak Bangsa. Dalam komentarnya tentang buku itu, Amin Rais tak segan-segan mengakuinya sebagai Angry Book (buku yang marah). “Saya mencoba menggugah anak anak-anak bangsa yang sudah dibrainwashing sejak jaman londo dahulu, dan sekarang masih melekat sebagai mental inlander. Tanpa melepaskan mental inlander (mental budak), kita tidak bisa bangkit. Sayangnya, pemimpin kita tidak mengikuti Sultan Agung Mataram tapi malah mengikuti Amangkurat I dan II yang menjual Pelabuhan Cirebon (pada bangsa asing) dan memanggil eyang pada Gubernur Jendral Belanda”. Tukasnya tanpa tedeng aling-aling dalan sebuah kesempatan diskusi Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah (2008).
Jauh masa sebelum Amien Rais melontarkan hal itu, perannnya sebagai cerdik cendekia terkemuka telah menempatkannya di posisi Ketua Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), yang lahir dan besar dari rahim Orde Baru. Namun, kondisi politik dan perekonomian yang sudah terlanjur membusuk dan sangat tidak sehat bagi demokratisasi mendorongnya mengambil langkah berani yang tidak populer dan bersuara lantang tentang silang sengkarut praktik KKN (korupsi, kolusi, Nepotisme) di tubuh birokarasi serta eksploitasi serakah kekayaan negeri yang sangat merugikan negara di sejumlah perusahaan besar asing seperti Busang dan Freeport . Seperti resiko yang diduga banyak orang, Amien Rais kemudian terpental dari posisinya di ICMI.
Namun kehadirannya di Muhammadiyah dan lompatan-lompatan gagasannya justru dianggap sejalan dengan watak gerakan pembaharuan yang kritis dan korektif, hal itu kemudian menuai dukungan penuh. Maka tahun 1993, dihadapan peserta Tanwir Muhammadiyah yang berlangsung di Surabaya Amien Rais kembali menggulirkan issu besar, yakni perlunya suksesi kepresidenan. Sebuah langkah janggal pada saat itu sebab gurita kepemimpinan Orde Baru masih sangat mencengkeram. Keberaniannya mengambil resiko yang tak jarang bahkan mengancam jiwanya, diakui suami Kusnariyati Sri Rahayu ini sebagai sikap amal ma’ruf nahi mungkar yang sesungguhnya amanat dan sekaligus ruh gerakan dakwah Muhammadiyah. Aminen Rais juga merasa bahagia menerjang segala resiko perjuangannya karena mendapat supportpenuh dari istri dan kelima putra-putrinya: Ahmad Hanafi, Hanum Salsabilla, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan Ahmad Baihaqi.
”Saya dulu dididik ibu untuk amar ma’ruf. Menurut beliau, melaksanakan amar ma’ruf tidak ada resikonya. Orang yang tidak setuju pun tidak marah. Tapi, melaksanakan nahi mungkar banyak resikonya,” gugahnya nan bersahaja.   
Proses ragi politik yang terus membusuk dan melemahkan sendi-sendi ekonomi bangsa pada dasa­warsa kedua tahun 1990-an, mendorong Amien Rais kembali menggulirkan gagasan tentang suksesi, bahkan dengan desakan lebih luas: Reformasi Total. Berawal dari kasus Freeport dan Busang, Amien Rais sengaja meggerbah kelesuan perubahan sosial yang mendasar di negeri ini. Bahkan, gagasan dan gerakannya berada di garda paling depan dalam meruntuhkan kebobrokan politik Orde Baru. Sejak awal bergulirnya reformasi, Amien Rais sudah menyatakan ”siap” mencalonkan diri sebagai presiden. Ini sebuah pernyataan yang dinilai sangat berani pada saat itu meskipun diakuinya sendiri hanya sebatas political education. Namun wacana pencalonan dirinya sebagai presiden, bukanlah semata-mata didorong hasrat untuk berkuasa melainkan cermin sikap high politic-nya yang konsekwen mendorong upaya pengentasan penderitaan rakyat akibat distorsi kepemimpinan nasional yang otoriter dan korup. Amien Rais melihat keterpurukan bangsa ini harus diperbaiki mulai dari tampuk kekuasaan.
Keterlibatan Amien Rais di Pimpinan Pusat Muham­madiyah dimulai sejak Muktamar Muhammadiyah tahun 1985 di Surakarta sebagai Ketua Majelis Tabligh. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 (1990) di Yogyakarta, Amien Rais terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Meninggalnya K.H. Ahmad Azhar Basyir selaku Ketua Umum Muhammadiyah pada tahun 1994 kemudian mendaulat Sang Pemberani ini ke posisi puncak itu. Muktamar Muhammadiyah ke-43 tahun 1995 di Banda Aceh akhirnya secara aklamasi meminta kesediannya melan­jutkan tampuk nakhoda Muhammadiyah.
Dapat dikata, aktivitas bermuhammadiyah Amien Rais tidak pernah terlepas dari pandangan keprihatinannya terhadap kehidupan politik nasional yang menurutnya perlu direfor­masi untuk menghindari keterpurukan bangsa yang semakin dalam. Setelah tumbangnya Rezim Orde Baru dengan mundurnya Soeharto dari jabatan presiden selama 32 tahun, situasi politik berlangsung mencekam dan sangat meresahkan. Maka bersama berbagai komponen tokoh bangsa lainnya Amien Rais mendirikan Majelis Amanat Rakyat (MARA) untuk mencari solusi terbaik pasca reformasi. Tak sedikit yang mengaggap sudah kepalang tanggung jika Amien Rais harus berhenti hanya sampai disitu, atas desakan dari berbagai komponen bangsa yang menginginkan perubahan para­digma politik Indonesia, Amien Rais kemudian mendirikan partai politik yang diberi nama Partai Amanat Nasional (PAN). Sebagai konsekuen­si­ dari langkah politik itu, Amien Rais harus melepaskan posisi puncak di Muhammadiyah.
”Muhammdiyah adalah rumah abadi saya,” tegasnya tak dapat mengelakkan rasa haru.
Kiprah Amien Rais selama mamainkan peran awal hingga sekarang di pentas politik nasional cukup fenomenal. Partai Amanat Nasional yang kemudian dinakhodainya sendiri berhasil cukup gemilang dalam mengikuti pemilu pertamakali tahun 1999, dimana partai berlambang matahari itu mampu meraup perolehan suara 7% dan menempatkan posisinya di peringkat ke-5 dalam perolehan suara nasional seluruh partai kontestan. Posisi tersebut, berhasil pula mengantarkan Amien Rais sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI). Dalam posisi paling atas lembaga tertinggi negara itu, Amien Rais menjadi king maker regulasi demokrasi nasional. Bahkan dengan kepiawaian dan kecerdasan politiknya, Amien Rais menggulirkan gagasan Poros Tengah untuk membangun jalan baru dari dua titik ekstrim dalam kubu politik yang cenderung berlaku zero some game sebab tersandung kebekuan hubungan politik, sampai kemudian berhasil mencalonkan, mengawal dan sekaligus mengantarkan Abdurrahman Wahid ke tampuk kursi Presiden ke-4 RI. Dan ternyata, gagasan Poros Tengah itu mampu memberi pengaruh pula bagi upaya merajut hubungan harmonis Muhammadiyah-NU yang sebelumnya kerap bersebrangan tegang dalam pilihan instrumen dan gerak dakwahnya. Meskipun keharmonisan hubungan itu tak lama disemai, sebab proses politik setelahnya berlangsung di luar duga, dimana presiden ke-4 RI yang tak lain tokoh sentral NU itu akhirnya dilengserkan secara konstitusional oleh MPR RI yang kebetulan masih dikomandanu Amien Rais.
Meskipun Amin Rais sendiri belum berhasil meraih kursi presiden ke-5 RI dalam kontestasi Pemilu Presiden yang diselenggarakan pertamakali secara langsung (2004), namun prestasi politiknya tak terpungkiri sejarah bangsa Indeonsia sebagai sosok bapak dan sekaligus sokoguru politik bangsa yang mewakili lima nilai istimewa rapor politikus era reformasi: Ikhlas, cerdas, tegas, jujur dan bersih. Kini, menjelang usia lanjut dan tampak mulai memasuki masa sepuh, Amin Rais masih segar sumringah berkiprah di Muhammadiyah.
”Saya dulu dididik ibu untuk amar ma’ruf. Menurut beliau, melaksanakan amar ma’ruf tidak ada resikonya. Orang yang tidak setuju pun tidak marah. Tapi, melaksanakan nahi mungkar banyak resikonya,” gugahnya nan bersahaja.   
Proses ragi politik yang terus membusuk dan melemahkan sendi-sendi ekonomi bangsa pada dasa­warsa kedua tahun 1990-an, mendorong Amien Rais kembali menggulirkan gagasan tentang suksesi, bahkan dengan desakan lebih luas: Reformasi Total. Berawal dari kasus Freeport dan Busang, Amien Rais sengaja meggerbah kelesuan perubahan sosial yang mendasar di negeri ini. Bahkan, gagasan dan gerakannya berada di garda paling depan dalam meruntuhkan kebobrokan politik Orde Baru. Sejak awal bergulirnya reformasi, Amien Rais sudah menyatakan ”siap” mencalonkan diri sebagai presiden. Ini sebuah pernyataan yang dinilai sangat berani pada saat itu meskipun diakuinya sendiri hanya sebatas political education. Namun wacana pencalonan dirinya sebagai presiden, bukanlah semata-mata didorong hasrat untuk berkuasa melainkan cermin sikap high politic-nya yang konsekwen mendorong upaya pengentasan penderitaan rakyat akibat distorsi kepemimpinan nasional yang otoriter dan korup. Amien Rais melihat keterpurukan bangsa ini harus diperbaiki mulai dari tampuk kekuasaan.
Keterlibatan Amien Rais di Pimpinan Pusat Muham­madiyah dimulai sejak Muktamar Muhammadiyah tahun 1985 di Surakarta sebagai Ketua Majelis Tabligh. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 (1990) di Yogyakarta, Amien Rais terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Meninggalnya K.H. Ahmad Azhar Basyir selaku Ketua Umum Muhammadiyah pada tahun 1994 kemudian mendaulat Sang Pemberani ini ke posisi puncak itu. Muktamar Muhammadiyah ke-43 tahun 1995 di Banda Aceh akhirnya secara aklamasi meminta kesediannya melan­jutkan tampuk nakhoda Muhammadiyah.
Dapat dikata, aktivitas bermuhammadiyah Amien Rais tidak pernah terlepas dari pandangan keprihatinannya terhadap kehidupan politik nasional yang menurutnya perlu direfor­masi untuk menghindari keterpurukan bangsa yang semakin dalam. Setelah tumbangnya Rezim Orde Baru dengan mundurnya Soeharto dari jabatan presiden selama 32 tahun, situasi politik berlangsung mencekam dan sangat meresahkan. Maka bersama berbagai komponen tokoh bangsa lainnya Amien Rais mendirikan Majelis Amanat Rakyat (MARA) untuk mencari solusi terbaik pasca reformasi. Tak sedikit yang mengaggap sudah kepalang tanggung jika Amien Rais harus berhenti hanya sampai disitu, atas desakan dari berbagai komponen bangsa yang menginginkan perubahan para­digma politik Indonesia, Amien Rais kemudian mendirikan partai politik yang diberi nama Partai Amanat Nasional (PAN). Sebagai konsekuen­si­ dari langkah politik itu, Amien Rais harus melepaskan posisi puncak di Muhammadiyah.
”Muhammdiyah adalah rumah abadi saya,” tegasnya tak dapat mengelakkan rasa haru.
Kiprah Amien Rais selama mamainkan peran awal hingga sekarang di pentas politik nasional cukup fenomenal. Partai Amanat Nasional yang kemudian dinakhodainya sendiri berhasil cukup gemilang dalam mengikuti pemilu pertamakali tahun 1999, dimana partai berlambang matahari itu mampu meraup perolehan suara 7% dan menempatkan posisinya di peringkat ke-5 dalam perolehan suara nasional seluruh partai kontestan. Posisi tersebut, berhasil pula mengantarkan Amien Rais sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI). Dalam posisi paling atas lembaga tertinggi negara itu, Amien Rais menjadi king maker regulasi demokrasi nasional. Bahkan dengan kepiawaian dan kecerdasan politiknya, Amien Rais menggulirkan gagasan Poros Tengah untuk membangun jalan baru dari dua titik ekstrim dalam kubu politik yang cenderung berlaku zero some game sebab tersandung kebekuan hubungan politik, sampai kemudian berhasil mencalonkan, mengawal dan sekaligus mengantarkan Abdurrahman Wahid ke tampuk kursi Presiden ke-4 RI. Dan ternyata, gagasan Poros Tengah itu mampu memberi pengaruh pula bagi upaya merajut hubungan harmonis Muhammadiyah-NU yang sebelumnya kerap bersebrangan tegang dalam pilihan instrumen dan gerak dakwahnya. Meskipun keharmonisan hubungan itu tak lama disemai, sebab proses politik setelahnya berlangsung di luar duga, dimana presiden ke-4 RI yang tak lain tokoh sentral NU itu akhirnya dilengserkan secara konstitusional oleh MPR RI yang kebetulan masih dikomandanu Amien Rais.
Meskipun Amin Rais sendiri belum berhasil meraih kursi presiden ke-5 RI dalam kontestasi Pemilu Presiden yang diselenggarakan pertamakali secara langsung (2004), namun prestasi politiknya tak terpungkiri sejarah bangsa Indeonsia sebagai sosok bapak dan sekaligus sokoguru politik bangsa yang mewakili lima nilai istimewa rapor politikus era reformasi: Ikhlas, cerdas, tegas, jujur dan bersih. Kini, menjelang usia lanjut dan tampak mulai memasuki masa sepuh, Amin Rais masih segar sumringah berkiprah di Muhammadiyah.

Sumber:http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-167-det-prof-dr-h-amien-rais.html